Jika 39% Keterampilan Akan Usang dalam Lima Tahun, Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Bangun di Ruang Kelas?
Masa depan dunia kerja dapat dibentuk demi hasil yang lebih baik, dan keputusan yang diambil para pemimpin saat inilah yang akan menentukannya.
— World Economic Forum, Future of Jobs Report 2025
Ketika Laporan Global Mengetuk Pintar Kita
Pada Januari 2025, World Economic Forum menerbitkan Future of Jobs Report 2025, sebuah laporan yang menghimpun pandangan lebih dari 1.000 pemberi kerja global yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja di 55 negara. Laporan ini adalah sebuah surat terbuka kepada siapa pun yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak hari ini.
Dan ada satu angka yang membuat kami berhenti cukup lama: 39%. Artinya, hampir dua dari lima keterampilan yang dimiliki seorang pekerja hari ini akan berubah atau menjadi usang sebelum tahun 2030. Bukan sepuluh tahun lagi. Lima tahun. Jarak antara anak kita duduk di bangku sekolah hari ini dan hari di mana ia melangkah ke dunia kerja.
Maka pertanyaan yang ingin kami ajukan dengan sungguh-sungguh: jika lebih dari sepertiga keterampilan yang kita ajarkan hari ini akan kehilangan relevansinya dalam lima tahun, apa yang sebenarnya sedang kita bangun di ruang-ruang kelas kita?
Apa yang Dunia Butuhkan dari Anak-Anak Kita
Laporan itu menyebutkan bahwa pada tahun 2030, dunia akan menyaksikan terciptanya 170 juta pekerjaan baru dan hilangnya 92 juta pekerjaan yang ada hari ini. Pekerjaan-pekerjaan yang tumbuh paling cepat didominasi oleh bidang teknologi: Big Data Specialist, AI and Machine Learning Specialist, FinTech Engineer, Software Developer. Sementara pekerjaan-pekerjaan klerikal, kasir, dan petugas entri data menyusut paling tajam.
Tetapi yang lebih penting dari daftar pekerjaan itu adalah daftar keterampilannya. Karena pekerjaan bisa berganti nama, tetapi keterampilan inti bertahan melampaui satu profesi. Dan inilah yang dunia butuhkan dari anak-anak kita:
Berpikir analitis tetap menjadi keterampilan nomor satu, disebut esensial oleh tujuh dari sepuluh pemberi kerja. Diikuti oleh ketangguhan dan kelenturan berpikir, kepemimpinan dan pengaruh sosial, berpikir kreatif, serta motivasi dan kesadaran diri.
Dan keterampilan yang tumbuh paling cepat? AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, literasi teknologi, berpikir kreatif, serta rasa ingin tahu dan pembelajaran sepanjang hayat.
Perhatikan baik-baik daftar itu. Dari sepuluh keterampilan teratas, tidak satu pun yang bisa dibangun melalui drill menjawab soal. Tidak satu pun yang bisa tumbuh dari budaya menghafal dan mengulang prosedur. Yang dibutuhkan dunia adalah manusia yang bisa berpikir, beradaptasi, bekerja sama, menciptakan, dan terus belajar.
Yang Tidak Bisa Digantikan Mesin
Ada satu temuan dalam laporan ini yang seharusnya menjadi sumber harapan besar bagi dunia pendidikan. Laporan ini mencatat bahwa dari lebih dari 2.800 keterampilan yang dianalisis, tidak satu pun yang memiliki kapasitas penggantian "sangat tinggi" oleh kecerdasan buatan generasi saat ini. Dan mayoritas keterampilan (69%) memiliki kapasitas penggantian yang sangat rendah atau rendah.
Keterampilan yang paling sulit digantikan adalah keterampilan yang paling manusiawi: empati, mendengarkan aktif, ketangguhan, kreativitas, dan kemampuan memimpin serta membimbing. Bahkan teaching and mentoring justru mengalami kenaikan permintaan, didorong oleh perubahan demografis. Dan environmental stewardship, kepedulian terhadap lingkungan, masuk ke dalam daftar sepuluh keterampilan yang tumbuh paling cepat untuk pertama kalinya dalam sejarah laporan ini.
Apa artinya ini? Bahwa pendidikan yang berpusat pada pembentukan manusia seutuhnya justru semakin relevan. Bukan pendidikan yang berlomba menjadikan anak secepat mesin.
Apa Artinya bagi Ruang Kelas
Laporan ini mencatat bahwa 59 dari setiap 100 pekerja akan membutuhkan pelatihan tambahan pada tahun 2030. Artinya, pendidikan tidak lagi berhenti di hari kelulusan. Anak yang kita didik hari ini harus memiliki rasa ingin tahu yang cukup kuat untuk terus belajar sepanjang hidupnya, karena dunia tidak akan berhenti berubah hanya karena ia sudah menerima ijazah.
Dan skills gap, kesenjangan keterampilan, disebut oleh 63% pemberi kerja sebagai hambatan terbesar transformasi bisnis. Jangan melihat ini hanya sebagai masalah perusahaan semata. Ini adalah cermin dari apa yang terjadi, atau tidak terjadi, di ruang-ruang kelas kita hari ini.
Maka pertanyaan untuk kita sebagai pendidik bukan lagi "Apakah anak bisa menjawab soal ini?" melainkan "Apakah anak bisa berpikir, beradaptasi, dan terus belajar ketika menghadapi situasi yang belum pernah ia temui sebelumnya?"
Bagaimana SJMES Menjawab
Di SJMES (Saint Joseph Montessori School), kami tidak memulai dari pertanyaan "Keterampilan apa yang harus kami ajarkan agar anak lulus ujian?" Kami memulai dari pertanyaan yang berbeda: "Manusia seperti apa yang sedang kami bantu tumbuh di sini, dan apakah ia akan mampu berpikir, beradaptasi, dan terus belajar ketika dunia di sekitarnya berubah tanpa henti?"
Dari pertanyaan itu, seluruh pendekatan kami mengalir.
Kami membangun cara berpikir, bukan disibukkan mengisi kepala. Anak tidak datang ke sekolah untuk menerima informasi. Ia datang untuk belajar bagaimana berpikir. Di kelas kami, anak diberi ruang untuk bertanya, mengeksplorasi, dan menemukan sendiri. Karena anak yang belajar cara berpikir akan mampu menghadapi soal apa pun, termasuk soal yang belum pernah ada sebelumnya.
Kami membangun ketangguhan, bukan kesempurnaan. Di kelas kami, kebingungan bukan musuh. Ia adalah pintu masuk pemahaman. Anak yang tidak pernah diizinkan bingung tidak akan pernah mengalami kepuasan memahami. Dan anak yang tidak pernah mengalami kepuasan memahami tidak akan pernah memiliki ketangguhan untuk menghadapi hal yang belum pernah ia temui. Di sini, jawaban keliru yang disertai alur berpikir yang benar mendapat apresiasi yang sama besarnya dengan jawaban benar.
Kami membangun kepemimpinan dan kolaborasi sebagai pengalaman, bukan teori. Anak-anak di SJMES berkomunikasi lintas usia. Yang lebih tua mendiskusikan gagasannya dengan yang lebih muda, bertukar pikiran, dan belajar bahwa memimpin bukan berarti mendominasi, melainkan mendengarkan, mengartikulasikan, dan menggerakkan. Ini adalah bibit kepemimpinan yang sesungguhnya, bukan dari buku teks, melainkan dari pengalaman hidup.
Kami membangun rasa ingin tahu sebagai kebiasaan, bukan kewajiban. Anak yang bertanya "mengapa?" bukan anak yang mengganggu kelas. Ia adalah anak yang sedang melakukan hal paling mendasar yang bisa dilakukan seorang manusia: mencoba memahami dunianya. Kami tidak mematikan pertanyaan itu dengan jawaban instan. Kami membiarkannya tumbuh. Karena di situlah pembelajaran sepanjang hayat bermula.
Kami membangun kepedulian sebagai bagian dari siapa kita. Laporan WEF untuk pertama kalinya memasukkan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam daftar keterampilan yang tumbuh paling cepat. Di SJMES, kepedulian terhadap lingkungan bukan program tambahan. Ia adalah bagian dari cara kami memandang pendidikan secara keseluruhan. Anak yang belajar peduli terhadap lingkungannya sedang belajar bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Penutup
Laporan ini bukan ramalan. Ia adalah proyeksi berdasarkan pandangan lebih dari seribu pemberi kerja global. Dan proyeksinya jelas: dunia membutuhkan manusia yang bisa berpikir, beradaptasi, bekerja sama, menciptakan, dan terus belajar. Bukan manusia yang berlomba menjadi mesin.
Kami tidak menjanjikan bahwa anak-anak kami akan mengetahui semua jawaban. Tetapi kami menjanjikan bahwa mereka akan mampu mencari jawaban, menghadapi ketidakpastian dengan keberanian, dan berkontribusi dengan makna.
Kami tidak menjanjikan bahwa anak-anak kami akan mengetahui semua jawaban. Tetapi kami menjanjikan bahwa mereka akan mampu mencari jawaban, menghadapi ketidakpastian dengan keberanian, dan berkontribusi dengan makna..
Antonius Widitrianto
Reference
World Economic Forum. (2025). Future of Jobs Report 2025. Geneva: World Economic Forum. https://www.weforum.org/reports/the-future-of-jobs-report-2025/
Posted on 1 January 1970