Ketika Deep Learning Berhenti di Dokumen
Sebuah Catatan
Belakangan ini, istilah deep learning (pembelajaran mendalam) mendadak ramai. Ia muncul dalam dokumen kurikulum, dalam pelatihan guru, dalam seminar pendidikan. Semua orang membicarakannya. Semua orang mengangguk. Semua orang sepakat bahwa pembelajaran harus lebih dalam, lebih bermakna, lebih relevan.
Dan kami membaca semua itu dengan perasaan yang campur aduk. Senang, tentu. Karena gagasan-gagasan yang kami hidupi telah mendapat nama, mendapat panggung, mendapat pengakuan dari pembuat kebijakan. Tetapi juga was-was. Karena kami tahu, dari pengalaman panjang dunia pendidikan, bahwa ada jarak yang sangat besar antara sebuah konsep yang tertulis di dokumen dan sebuah konsep yang benar-benar terjadi di ruang kelas.
Dokumen Kurikulum Tidak Pernah Mengajar Anak
Michael Fullan, Joanne Quinn, dan Joanne McEachen menulis dalam Deep Learning: Engage the World Change the World (2017) sebuah kalimat yang seharusnya membuat kita semua berhenti sejenak: "Programs don't scale; culture does." Program tidak bisa di-scale. Budaya bisa.
Mereka juga mencatat dengan jujur: dokumen kurikulum baru biasanya tidak banyak bicara tentang bagaimana mengimplementasikan kompetensi yang dicanangkan, apalagi bagaimana mengukurnya. Dokumen itu menulis apa yang seharusnya dicapai, tetapi jarang menjawab bagaimana mencapainya di ruang kelas yang nyata, dengan anak-anak yang nyata.
Dan ini bukan kritik terhadap pembuat kebijakan. Ini pengakuan bahwa regulasi, betapapun baiknya, tidak pernah bisa mengajar anak. Yang mengajar anak adalah guru. Yang membentuk pengalaman belajar anak adalah budaya sekolah. Yang menentukan apakah sebuah konsep hidup atau mati adalah apa yang terjadi setiap pagi ketika pintu kelas dibuka.
Fullan menulis dengan sangat tegas: "The change lesson here is that we need to change the culture of learning, not simply the trappings or structures. It cannot be done by policies or mandates." Kita perlu mengubah budaya belajar, bukan sekadar tampilan atau strukturnya. Dan itu tidak bisa dilakukan melalui kebijakan atau mandat.
Apa yang Terjadi Ketika Deep Learning Benar-Benar Hidup
Fullan membangun kerangka deep learning di sekitar enam kompetensi global: Character, Citizenship, Collaboration, Communication, Creativity, Critical Thinking, yang ia sebut 6C. Tetapi yang membuat deep learning berbeda dari sekadar daftar kompetensi adalah ini: ia mengubah secara permanen peran siswa, guru, keluarga, dan masyarakat.

Di kelas-kelas yang ia kunjungi di tujuh negara, Fullan menyaksikan anak-anak yang sebelumnya tidak terlibat tiba-tiba memimpin proyek komunitas. Anak-anak yang dulu tidak berani bicara kini presentasi di depan ratusan orang. Guru-guru yang dulu berdiri di depan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan kini berkata, "We are partners." Kami adalah mitra.
Dan yang paling penting: semua itu tidak terjadi karena ada regulasi baru. Semua itu terjadi karena budaya belajar berubah. Karena anak diberi ruang untuk bertanya, untuk salah, untuk mencoba lagi. Karena guru dipercaya untuk tidak sekadar menyampaikan materi tetapi membangun pemahaman bersama. Karena sekolah mengizinkan ketidakpastian sebagai bagian dari proses.
Di tempat-tempat di mana hal ini sudah lama dihidupi, bukan karena tren, tetapi karena keyakinan, deep learning bukan konsep baru. Ia adalah udara yang dihirup setiap hari. Anak yang belajar mengakui kesalahannya sedang membangun karakter. Anak yang bekerja lintas usia sedang membangun kolaborasi. Anak yang bertanya "mengapa?" tanpa takut dihakimi sedang membangun rasa ingin tahu yang akan ia bawa seumur hidup.
Yang Kami Khawatirkan
Fullan sendiri menyuarakan kekhawatiran yang sama dengan kami. Ia menulis bahwa gerakan deep learning "is fragile and may become domesticated by strong forces in the status quo, or become weakened because the work becomes too complex and hard." Ia rapuh dan bisa dijinakkan oleh kekuatan-kekuatan status quo, atau melemah karena pekerjaannya terlalu kompleks dan sulit.
Dan kami memahami mengapa. Karena deep learning yang sesungguhnya menuntut sesuatu yang sangat sulit: melepaskan kendali. Ia menuntut guru untuk tidak lagi menjadi satu-satunya pemegang jawaban. Ia menuntut sekolah untuk tidak lagi mengukur keberhasilan dari angka semata. Ia menuntut sistem untuk percaya bahwa anak bisa belajar tanpa harus dipaksa, diarahkan, dan distandardisasi.
Maka pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan "Apakah kurikulum kita sudah memuat deep learning?" Pertanyaannya sudah bukan itu. Pertanyaannya: "Apakah deep learning sudah terjadi di ruang kelas kita hari ini? Apakah anak-anak kita benar-benar mengalami pembelajaran yang mendalam, atau mereka masih duduk dalam barisan, mendengarkan, menyalin, dan menjawab soal yang tidak pernah mereka pahami?"
Sebuah Undangan
Kepada para pembuat kebijakan, kami ingin berkata: dokumen kurikulum yang baik adalah awal yang penting. Tetapi ia tidak pernah cukup. Yang mengubah pendidikan bukan dokumen. Yang mengubah pendidikan adalah guru yang merasa dipercaya, anak yang merasa dihargai, dan budaya sekolah yang mengizinkan semua orang untuk belajar, salah, dan tumbuh.
Kepada para orang tua, kami ingin berkata: jika Anda mendengar istilah deep learning di sekolah anak Anda, tanyakan satu hal sederhana: apakah anak saya mengalami ini setiap hari, atau hanya mendengarnya sebagai slogan? Karena deep learning yang sesungguhnya terlihat. Ia terlihat ketika anak pulang dengan pertanyaan baru, bukan hanya jawaban. Ketika anak bercerita tentang apa yang ia temukan, bukan hanya apa yang ia hafal. Ketika anak tidak takut salah, karena ia tahu bahwa di sekolahnya, salah adalah bagian dari belajar.
Deep learning yang sejati tidak menunggu kurikulum memberitahu bahwa pembelajaran harus mendalam. Ia sudah memulainya. Setiap hari. Satu anak pada satu waktu.
Antonius Widitrianto
"Deep learning berbeda, baik dalam hakikat maupun cakupannya, dari semua inovasi pendidikan yang pernah dicoba. Ia mengubah hasil belajar—karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis. Dan ia mengubah proses belajar itu sendiri, dengan berfokus pada hal-hal yang bermakna baik secara personal maupun kolektif, lalu mendalami hal-hal tersebut sedemikian rupa hingga mengubah selamanya peran siswa, guru, keluarga, dan pihak-pihak lainnya."
— Fullan, Quinn, & McEachen, Deep Learning: Engage the World Change the World (2017)
Reference
Fullan, M., Quinn, J., & McEachen, J. (2017). Deep Learning: Engage the World Change the World. Thousand Oaks, CA: Corwin.
Posted on 1 January 1970